|
Photo Lebih Lengkap
Senin, 22 Desember 2008 aku beserta rombongan bertolak dari bandara Syamsuddin Noor Banjarmasin ke bandara Juanda Surabaya beserta rombongan. Konsentrasiku terbagi dua, pertama pada mengemban misi kegiatan peningkatan wawasan terutama di PAS dan ICT, kedua pada istriku Asnawati yang menunggu jam-jam kelahiran di Yogyakarta.
Anggota rombongan kami, paham akan kondisi ini. Mereka berempati terhadap apa yang kuhadapi. Telpon dan SMS terus mengalir dari istriku semenjak sebelum keberangkatanku hingga aku telah menginjakkan kakiku di tanah Jawa. Terjadi interaksi komunikasi antara kami, hingga akhirnya di subuh hari selasa sekitar pukull 05.00, tidak ada respon balik dari istriku, pesan terakhir SMS-nya, "biarlah ulun kd mehangi pian". Naluriku mengerti hal ini, begitu kuutarakan dengan Pa Busra, kepala sekolah kami yang ikut rombongan, Beliau langsung merekomendasikan aku untuk segera ke Yokyakarta. Sejumlah uang Beliau berikan kepadaku. Selepas subuh aku langsung pamit dengan Pa Busra, menuju bendara Juanda. Alhamdulillah, aku dapat tiket Batavia Air, berangkat pukul 07.00 ke Yogyakarta. Sekitar pukul 08.05. pesawat mendarat dibendara Adisucipto. Sejak boarding aku setia menenteng buku agenda, yasin, dan helaian berisi bacaan-bacaaan dan doa-doa, aku lakukan rital wirid, do'a dan shalawat serta membaca ayat-ayat al quran. Tiba-tiba sekitar pukul 08. entah lewat berapa, aku kaget agenda yang kupegang seolah-olah meloncat dari tanganku, pesawat lagi melakukan pengurangan kecepatan dengan menegakkan sirip-sirip sayapnya. Aku mencari di mana agendaku yang jatuh, setelah bersusah payah akhirnya aku temukan juga, agenda itu terdorong agak jauh ke depan, di bawah kursi di depanku. Di hatiku terbetik kuat, "Boleh jadi anakku terlahir di saat jatuhnya agenda itu," Setelah turun pesawat, saat menuju taxi, kuhubungi nomor handphone istriku, kuterima kabar bahwa ia baru saja melahirkan anak laki-laki seberat 3,1 kg. Taxi mengambil jalan tol untuk menyingkatan waktu perjalanan menuju Rumah Inab Bersalin Sakina di jalan Sangaji. Setiba di tempat tujuan, kudapati istriku menjalani tindakan pasca melahirkan, kelihatnnya masih baru sekali, sementara bayiku lagi dibersihkan/dimandikan. Aku diminta menunggu sejenak. Tak lama aku dipersilahkan masuk melihat bayi dan istriku, sekalian mengumandangkan adzan dan iqamah. Alhamdulillah, kiranya aku datang tepat waktunya, kubacakan Adzan dan iqamah bada telinga kanan dan kirinya disertai do'a-do'a semoga bayiku menjadi anak yang saleh. Selepas dari anakku aku menemui istriku, ia nampak senang dan tenang menyadari kini aku ada di sisinya. Alhamdulillah.
Kondisi fisik bayiku: 1. Kulit lumayan putih 2. Berambut kepala hitam, lurus dan lumayan lebat. Berbeda dari kaka-kakanya yang relatif plontos saat lahir. 3. Berat 3,1 kg 4. Hidung agak mancung dengan bibir mungil, mata agak sipit, kening agak tegas. 5. Rajah telapak tangan: "kalang", jenis/bentuk kuku "laki". Mirip siapa ya? masih rada sulit mengidentifikasi, maklum wajah bayi relatif berubah dinamis dari hari-ke hari, tunggu aja?
Aku merencanakan: 1. Mentasmiyakan dan mengaqikahkan anakku di Asrama Pantas Yogyakarta dengan 1 ekor kambing dulu, kelak di kampung kami, Martapura, InsyaAllah akan kami selenggarakan aqikah lanjutannya dengan 1 ekor kambing lagi. 2. Aku telah dapat persetujuan untuk menamakan anak kami ini dengan "Muhammad Anis." Aku berharap mendapat barokah dari Habib Anis, Solo, figur tauladan, ramah, halus budi perkerti, kasih sayang dan amat pemurah, tawadhu, dengan kedalaman ilmu yang tak perlu diragukan.
Keluargaku juga senang mendapat anugrah ini, semoga anak-anak kami dan sekalian anak-anak ummat Saidina Muhammad SAW, mendapat berkah dan rahmat yang luar biasa dariNya, menjadi anak-naka yang shaleh. Amin ya rabbal alamin.
Yogyakarta, 24 Desember 2008 Muhammad Syaiful Yazan ~ Asnawati msyna |