top
logo

MsynaCom FB

Abah & Anis

Banner
Banner

E-Learning

Banner

Tagihan PLN

Banner
Banner

Pengunjung

Website counter

Yang Online

We have 1 guest online

Login Form



Simple Video

Get the Flash Player to see this player.


Cukup dengan IQ untuk Meraih Sukses? PDF Print E-mail
Written by msyna   
Wednesday, 09 September 2009 01:09

 

William James Sidis

Fakta menyatakan ternyata IQ saja tidaklah cukup untuk meraih kesuksesan. Mungkin kita terheran-heran orang yang nampak tinggi kecerdasannya, pintar sekali saat sekolah, meraih nilai yang tinggi pula, namun dalam kehidupan biasa-biasa saja, bahkan kalah pencapaiannya dari orang yang nampak kepandaiannya sedang-sedang saja.

Ada sejumlah kasus ingin diungkap di sini.

Pertama kasus Ted Kaczynski yang ekstrim, ia diperiksa atas tuduhan “pemboman”. Sejak muda belia kecerdasannya nampak menonjol dan telah memiliki semua ciri sebagai orang yang ber-IQ tinggi. Ia menempuh pendidikan menengah atas tanpa melalui pendidikan menengah pertama. Sang anak ajaib ini masuk Harvard University pada usia 16 tahun dan lulus pada umur 20 tahun. Setelah menyelesaikan pendidikan magister dan doktoral di bidang matematika pada University of Machingan, kemudian ia mengajar di departemen matematika paling bergengsi di dunia, University of California di Barkeley. Mengajar adalah sumbangan yang bermakna pada masyarakat. Sayang dua tahun berselang, ia meninggalkan jabatannya sebagai dosen.

Ted terbiasa digembleng untuk mengembangkan pikiran semata, sementara kemampuan bersosialisasi atau emosionalnya terabaikan.  Semasa bersekolah, ia tak nampak bergaul dengan seorangpun dan tak pernah menjalin hubungan yang lama. “Ia cenderung menghindari pergaulan, ia dengan cepat melintas orang-orang yang sedang berkumpul dan terbiasa membanting pintu di belakangnya.” Kata Patrick Mcintosh, salah satu rekan sekamar Ted di Perguruan Tinggi. Warga kota Montana menggambarkannya sebagai orang yang menarik diri dari kehidupan sosial di Perguruan Tinggi, dan ia dijuluki “Petapa dari Harvard”.

Meskipun Ted piawi menciptakan bom sambil menghindari jeratan hukum, dalam pergaulan ia canggung. Satu-satunya kekuatannya adalah kecerdasannya, bukannya ia sumbangkan untuk menjadikan dunia lebih baik, sebaliknya ia membunuh tiga orang dan melukai 22 orang lainnya. Dari sini IQ semata bukanlah penjamin kesuksesan.

 

Contoh lain. William James Sidis. Dengan IQnya mencapai kisaran 250–-300?..
Keajaiban Sidis sudah terlihat kala dia makan sendiri dengan memakai sendok di usia 8 bulan. Belum genap 2 tahun, New York Times sudah menjadi sarapannya. Sejak  itu namanya menjadi langganan headline surat kabar. Ia menulis beberapa buku selagi belum berusia 8 tahun, diantaranya tentang anatomy dan astronomy. Di usia 11 tahun Sidis diterima di Universitas Harvard sebagai mahasiswa termuda. Harvard pun kemudian terpana oleh kejeniusannya ketika Sidis memberikan ceramah tentang Jasad Empat Dimensi di depan para professor matematika.

Dahsyatnya lagi,  Sidis paham 200 bahasa di dunia dan dapat  menerjemahkannya dengan amat gampang. Ia sanggup mempelajari sebuah bahasa secara tuntas cukup dalam sehari!!!

Sukses William James Sidis adalah sukses sang Ayah, Boris Sidis, seorang Psikolog handal berdarah Yahudi. Boris  juga lulusan Harvard, mahasiswa psikolog ternama William James (Nama ini kemudian diabadikannya pada nama anaknya) Boris berkehendak anaknya sebagai model pendidikan baru sekaligus menyerang sistem pendidikan konvensional yang dituduhnya telah menjadi biang keladi kejahatan, kriminalitas dan penyakit. Namun sayang, siapa mengira  William Sidis akhirnya meninggal di usia relatif muda, 46 tahun – di masa usia produktif bagi umumnya para ilmuwan. Sidis meninggal dalam kondisi menganggur, terasing dan amat miskin. Sungguh ironis.



Orang kemudian menilai bahwa kehidupan Sidis tidaklah bahagia. Popularitas dan kehebatannya di bidang matematika malah membuatnya tersiksa. Beberapa tahun sebelum ia meninggal, Sidis sempat menyatakan kepada pers bahwa ia benci matematika - sesuatu yang selama ini telah melambungkan namanya. Dalam kehidupan sosial, Sidis hanya sedikit punya teman. Bahkan ia sering diasingkan oleh rekan sekampus. Tidak pernah memiliki seorang pacar jugapun istri. Gelar sarjananya tidak pernah rampung, terabaikan begitu saja. Ia kemudian memutuskan tali kekeluargaannya, mengembara dalam kerahasiaan, bekerja dengan gaji ala kadarnya, mengasingkan diri, berlari jauh dari kejayaan masa kecilnya yang sebenarnya adalah proyeksi sang ayah. Ia menyadarinya bahwa hidupnya adalah hasil pemolaan orang lain. Namun, kesadaran memang sering telat datang.

Memprihatinkan, walau ada keinginan kuat untuk lari dari pengaruh sang Ayah, untuk menjadi diri sendirin namun Sidis tak mampu untuk itu. Pers dan publik terlanjur menjadikan Sidis sebagai sebuah berita. Kemanapun Sidis bersembunyi, pers pasti dapat  mencium. Sidis tidak dapat lepas sepenuhnya dari bayang dan pengaruh sang ayah. Sudah terlanjur tertanam bagaikan sebuah bom waktu, yang kemudian menghancurkan dirinya sendiri.

 

Diadaptasi dari Manusia paling jenius yang pernah ada di dunia http://dhammacitta.org/forum/index.php?topic=4770.0

 

Dari dua fakta di atas, menyatakan IQ semata tidaklah cukup. Kalau demikian kecerdasan lain apakah yang dibutuhkan untuk hidup sukses?

Manusia hadir ke dunia dengan segudang pertanyaan. Dari sekian banyak pertanyaan itu adakah haqiqi jika pertanyaan itu seperti: mengapa aku ada di dunia ini, untuk apa, siapa yang menyebabkan semua ini, siapa yang menjadikan kehidupan ini? Ini adalah pertanyaan besar dan wajar. Ada yang serius mencari jawabannya, namun ada juga yang cuek, tidak peduli dan cenderung putus asa, berpikir singkat dan suka menyikat barang yang menghalangi hasrat hatinya.

Fitrah manusia suka dihargai, dipuji dan dihormati. Bila modal pandangan ini dibawa dalam pergaulan dengan sesama makhluk khususnya manusia, yakni telaten dan mahir memenuhi harapan akan penghargaan, pujian dan penghormatan kepada sesama, maka InsyaAllah seseorang akan sangat diterima di lingkungan pergaulan termasuk di bidang muammalah, tentunya di dunia pekerjaan dan bisnis. Bila ia menjadi pemimpin, dan membawa keterampilah hubungan (human relation) seperti ini, maka orang-orang dalam lingkungannya akan merasa senang, bangga, merasa memiliki harga diri, dan yang jauh lebih penting merasakan situasi yang kondusif, memiliki keamanan dan kebebasan psikologis yang amat penting untuk beraktivitas, berkreativitas dan berproduktifitas. Pada akhirnya semua ini akan mendatangkan kemajuan besar, yang juga tentunya berdampak secara pencapaian ekonomi yang tinggi pula, sehingga kebutuhan secara material khususnya terjamin.

Namun sayang semua kemewahan yang diraih ini semua, status sosial, rumah, keluarga yang mapan, mobil dan rumah, tempat-tempat indah yang bisa dikunjungi dan dinikmati, pada akhirnya harus ditinggalkan dengan habisnya umur atau tibanya kematian. Lalu untuk apa semua itu kalau hanya terhenti sampai di sini? Apalagi cerita selanjutnya setelah “kematian” itu. Menyadari hal ini, dan selama masalah ini belum terpecahkan atau didapatnya pengetahuan atau ilmu yang meyakinkan akan semua ini, tentulah kemewahan yang tadi telah diraih akhirnya menjadi hambar, hidup dibayangi akan suasana datangnya ajal yang boleh jadi amat sangat menakutkan, setidaknya karena harus berpisah dengan apa yang telah diraih dan dinikmati di dunia.

IQ (Intelegent Quotion, kecerdasan intelektual) penting, khususnya di dunia sekolah, pengaruh tingginya IQ ini besar sekali. Selanjutnya bagaimana hidup di tengah masyarakat, membutuhkkan keterampilan bergaul, sangat membutuhkan kecerdasan emosional (EQ, Emotional Quotion), dalam Islam ada bidang tasauf (yang berkenaan dengan pengelolan rasa, hati dan sikap, zauq, zauqyah, yang tercermin khususnya dalam  pergaulan). Senada dengan itu dalam organisasi, kemampuan berhubungan antar manusia (human ralation) yang didukung EQ, amatlah penting bagi kemajuan organisasi, dicapainya tujuan-tujuan organisasi.

Kombinasi IQ dan EQ yang memadai sanggup mendatangkan kesejahteraan duniawi (welfare), namun masih menyisakan kecemasan dan ketakutan bila datang kematian. Untuk itu, perlu untuk apa semua ini, hidup ini, illmu ini, kesehatan ini, harta ini. Lalu tampillah kecerdasan spritual (Spritual Equation), keceredasan akan keTuhanan, tauhid, pengetahuan akan hakekat semua ini, haqiqiyah. Di sinilah tampil agama, petunjuk manual operasional hidup lahir bathin yang langsung diterbitkan oleh Maha Pencipta, Tuhan Semesta Alam. Tampillah para nabi dan rasul menyampaikan petunjuk atau risalah dari Tuhan untuk makhluk, khususnya manusia. Sepeninggal nabi dan rasul amanah ini diemban oleh warasatul anbiya, pewaris nabi, para wali Tuhan, para ulama, tokoh agama. Namun sayang kadang segelintir orang yang mapan IQ atau juga EQ, memandang remeh hal ini, cenderung mengabaikannya, sehingga merasakan agama sebagai sesuatu yang konvensional, takhyul, tidak ilmiah, agama konsumsinya orang-orang lemah dan miskin, orang yang suka berkhayal dan tidak realistis. Penomena ini, bahkan juga bisa di lihat terjadi atas sebagian orang yang tinggi IQ nya menyepelekan EQ, atau sebaliknya. Jadi seharusnya IQ, EQ dan SQ itu harus terintegrasi, harus dimiliki satu sama lainnya dalam qadar yang memadai, kurang salah satunya akan mengurangi keseluruhannya. Dalam Islam, hal ini diistilahkan dengan ilmiah, zauqiyah dan haqiqiyah yang berturut-turut sepadan dengan IQ, EQ dan SQ. Jelasnya semua harus dituntut ilmunya dengan pihak atau guru yang memang ahlinya, untuk IQ dan EQ mungkin relatif lebih mudah menuntutnya, sedangkan untuk SQ ini harus lebih hati-hati atau cermat karena urusannya sudah melewati keduniaan, dimensinya dunia dan akherat, dan yang mampu menjadikan IQ dan EQ bernilai hingga ke akherat, jadi gurunya dan kurikulumnya harus dijamin tepat dan benar.

Wallahu’alam!

 

 

Last Updated on Friday, 18 September 2009 20:34
 

Sering kita tidak menemukan solusi karena terabaikan yang dekat. Dengan kesederhanaan, fitrah, pandanglah Rasulullah Muhammad SAW dalam setiap sisi, renungkan secara mendalam, jelmakan sifat dan sikap Beliau dalam diri kita. Beliau bergerak dengan keridhaan dan kemauan Allah, maka ikuti Beliau, InsyaAllah keindahan dan kemesraan hidup akan terasa.

Buku Sekolah

Banner
Banner
Banner
Banner
dsc00947.jpg

Jejak Pendapat

Bagaimana pendapat Anda atas website ini?
 

Serba Serbi

Powered by JoomlaGadgets

Insan Utama

VA - Lagu Islami Terbaik ~ Haddad Alwi Feat Duta SO7 - Insan Utama

Get more songs & code at www.stafaband.info

CB userlist

no new user

bottom
top

Latest News

Popular


bottom

Powered by Syaiful Yazan, Sekumpul-Martapura msynacom 2009.